Belum Berhasil Tambah Emas Untuk Indonesia, Triyanto Sebut Ada Faktor Miskomunikasi

judi bola

Belum Berhasil Tambah Emas Untuk Indonesia, Triyanto Sebut Ada Faktor Miskomunikasi

Setelah Eko Yuli Irawan sukes kantongi medali emas Asian Games 2018 di cabang olahraga angkat besi putra kelas 62 kilogram, trend positif tersebut tidak berlanjut di kelas 69 kilogram. Belum ada kejutan yang muncul dalam pertandingan angkat besi kelas 69 kilogram yang berlangsung hari Rabu, 23 Agustus 2018 kemarin. Dua lifter Indonesia, Deni dan Triyanto belum berhasil untuk memperoleh medali.

Deni sendiri memang sudah realistis dalam persaingan di Asian Games 2018. Kendati sudah berhasil jadi yang terbaik di grup B, namun Deni tidak yakin 318 total beban yang ia angkat bisa jadi yang terbaik dari grup A. Sangkaan tersebut pun terjadi. Para lifter di grup A memiliki catatan angkatan yang lebih baik dari Deni, juga lebih baik dari Triyanto.

Sejatinya untuk Triyanto sendiri sempat membuka peluang untuk menyebet medali di kelas 69 kilogram ini. Ia nyaris saja setidaknya memberikan perunggu untuk Indonesia dengan total angkatan 329 kilogram. Sayangnya total angkatan tersebut berada di posisi keempat dalam klasemen akhir. Triyanto kalah dari lifter asal Korea Utara, Kang Chol O yang mencatatkan angkatan 336 kilogram dan berhak atas medali emas. Kemudian posisi kedua ditempati oleh lifter asal Uzbekitan, Doston Yukobov dengan total angkatan 331 kilogram serta Izzat Artykov dari Kirgistan dengan angkatan 330 di urutan ketiga.

Dengan kata lain, Triyanto hanya terbaput 1 kilogram saja total angkatannya dari peraih medali perunggu. Tentunya ini hasil yang cukup disesalkan. Ketika diwawancara, Triyanto menyebut kalau salah satu faktor yang membuatnya gagal meraih medali di kelas 69 kilogram adalah karena terdapanya miskominkasi antara dirinya dengan pelatih.

“Untuk hari ini saya minta maaf kepada bangsa Indonesia serta keluarga saya lantaran tidak dapat mempersembahkan medali. Mungkin laga tadi ada miskomunikasi antara saya dengan pelatih” terang Triyanto.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Triyanto kalau miskomunikasi terjadi ketika angkatan clean an jerk, yang mana harusnya Triyanto memulai dengan angkatan seberat 180 kilogram. Namun ternyata angkatan pertama yang ditempatkan adalah 175 kilogram. Sebetulnya Triyanto sudah meminta kepada pelatih agar menaikkan beban pada angkatan pertama.

“Pada angkatan pertama clean and jerk harusnya sudah ganti start, blum diganti tapi sudah dipanggil dulu. Kalau untuk snatch sih sudah sesuai dengan strategi. Karena tadi di snatch ukuran kedua. Maka dari itu seharusnya clean and jerk star 180 itu sudah bagus. Itu tadi saya bilang, pada angkatan pertama, pelatih sudah menempatkan 175, ditaruhnya setelah saya timbang badan. Kemudian saat setelah pemanasan, dapat dinaikkan lagi, tapi tadi lupa diubah. Sementara negara lain sudah cepat mengubahnya. Yah jadi sedikit miskomunikasi saja” tutur Triyanto.